Manakah
yang lebih penting dari karakter dan intelektual. Kedua hal ini memang
seharusnya dijalankan bersamaan. Namun, bagaimana dengan implentasinya? Tidak
mudah memang menyeimbangkan kedua hal ini. Dapat dikatakan hal ini menjadi
sebuah penyakit di Indonesia. Hal ini menjadi tanggung jawab kita sebagai calon
guru bagaimana menyeimbangkan kedua hal ini untuk mewujudkan generasi penerus
yang mempunyai intelektual tinggi diimbangi dengan karakter yang positif.
Fenomena melorotnya akhlak generasi bangsa, termasuk di dalamnya para elit bangsa, acapkali menjadi apologi bagi sebagian orang untuk memberikan kritik pedasnya terhadap institusi pendidikan. Hal tersebut teramat wajar karena pendidikan sesungguhnya memiliki misi yang amat mendasar yakni membentuk manusia utuh dengan akhlak mulia sebagai salah satu indikator utama, generasi bangsa dengan karatekter akhlak mulia merupakan salah satu profil yang diharapkan dari praktek pendidikan nasional. Adanya kata-kata berakhlak mulia dalam rumusan tujuan pendidikan nasional di atas mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia mencita-citakan agar akhlak mulia menjadi bagian dari karakter nasional. Hal tersebut diharapkan dapat terwujud melalui proses pendidikan nasional yang dilakukan secar berjenjang dan berkelanjutan. Terlebih bangsa Indonesia dengan mayoritas muslim menjadi daya dukung tersendiri bagi terwujudnya masyarakat dengan akhlak yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam. Hal tersebut dikarenakan akhlak menjadi bagian integral dari struktur ajaran Islam (akidah, syariah dan akhlak). Terkait dengan pendidikan berbasis karakter, Koesoema (2010: 135) mengemukakan bahwa pendidikan karakter hanya akan menjadi sekadar wacana jika tidak dipahami secara lebih utuh dan menyeluruh dalam konteks pendidikan nasional kita. Bahkan, pendidikan karakter yang dipahami secara parsial dan tidak tepat sasaran justru malah bersifat kontraproduktif bagi pembentukan karakter anak didik. Pendekatan parsial yang tidak didasari pendekatan pedagogi yang kokoh alih-alih menanamkan nilai-nilai keutamaan dalam diri anak, malah menjerumuskan mereka pada perilaku kurang bermoral.
Melihat banyaknya kasus sosial yang mengarah pada bentuk moral manusia pendidikan di Indonesia hanya bisa membentuk intelektual. Hal ini menyebabkan pembaruan kurikulum yaitu kurikulum 2013 yang menitikberatkan pada pembentukan karakter. Implentasi dari pendidikan karakter di Indonesia bersumber pada Pancasila. Sampai saat ini implementasi pendidikan karakter masih belum mampu menunjukkan hasil yang signifikan.
Fenomena melorotnya akhlak generasi bangsa, termasuk di dalamnya para elit bangsa, acapkali menjadi apologi bagi sebagian orang untuk memberikan kritik pedasnya terhadap institusi pendidikan. Hal tersebut teramat wajar karena pendidikan sesungguhnya memiliki misi yang amat mendasar yakni membentuk manusia utuh dengan akhlak mulia sebagai salah satu indikator utama, generasi bangsa dengan karatekter akhlak mulia merupakan salah satu profil yang diharapkan dari praktek pendidikan nasional. Adanya kata-kata berakhlak mulia dalam rumusan tujuan pendidikan nasional di atas mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia mencita-citakan agar akhlak mulia menjadi bagian dari karakter nasional. Hal tersebut diharapkan dapat terwujud melalui proses pendidikan nasional yang dilakukan secar berjenjang dan berkelanjutan. Terlebih bangsa Indonesia dengan mayoritas muslim menjadi daya dukung tersendiri bagi terwujudnya masyarakat dengan akhlak yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam. Hal tersebut dikarenakan akhlak menjadi bagian integral dari struktur ajaran Islam (akidah, syariah dan akhlak). Terkait dengan pendidikan berbasis karakter, Koesoema (2010: 135) mengemukakan bahwa pendidikan karakter hanya akan menjadi sekadar wacana jika tidak dipahami secara lebih utuh dan menyeluruh dalam konteks pendidikan nasional kita. Bahkan, pendidikan karakter yang dipahami secara parsial dan tidak tepat sasaran justru malah bersifat kontraproduktif bagi pembentukan karakter anak didik. Pendekatan parsial yang tidak didasari pendekatan pedagogi yang kokoh alih-alih menanamkan nilai-nilai keutamaan dalam diri anak, malah menjerumuskan mereka pada perilaku kurang bermoral.
Melihat banyaknya kasus sosial yang mengarah pada bentuk moral manusia pendidikan di Indonesia hanya bisa membentuk intelektual. Hal ini menyebabkan pembaruan kurikulum yaitu kurikulum 2013 yang menitikberatkan pada pembentukan karakter. Implentasi dari pendidikan karakter di Indonesia bersumber pada Pancasila. Sampai saat ini implementasi pendidikan karakter masih belum mampu menunjukkan hasil yang signifikan.
Lalu, bagaimana dengan pendidikan
intelektual apakah sama penting nya dengan pendidikan karakter? Tentu saja
sangat penting karena pendidikan merupakan pendidikan yang akan meningkatkan
kecerdasan intelektual. Pendidikan intelektual dapat menjadi modal bagi anak
saat mereka dewasa.
Perkembangan intelektual pada
dasarnya berhubungan dengan konsep-konsep yang dimiliki dan tindakan kognitif
seseorang. Hal ini sangat penting karena anak akan dihadapkan kepada
persoalan-persoalan yang menuntut kemampuan berpikir.
PAUD
FAIR merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan mulai dari tahun 2016 oleh HIMA
PG PAUD UNMUL. Acara ini bisa tiga kali digelar dihari-hari besar, khususnya
berkaitan dengan Hari Pendidikan. Agenda ini sebagai praktik mahasiswa
berinteraksi langsung dengan anak-anak dan juga kegiatan extra di luar mata
kuliah yang penting alam pengembangan diri mahasiswa.
Diadakan beberapa kegiatan, seperti talkshow parenting diikuti 170 peserta warga umum, lomba APE 22 kelompok mahasiswa dan guru se-Kaltim, unjuk bakat menggambar dan mewarnai, enam peserta TK se-Samarinda, unjuk bakat mewarnai 13 peserta TK se-Samarinda, unuk bakat menari 15 kelompok TK se-Samarinda, dan unjuk bakat fashion show 11 peserta TK se-Samarinda.
Talkshow Parenting merupakan salah satu bagian acara dari PAUD FAIR 2018. Acara ini dihadiri oleh 170 peserta yang kebanyakan merupakan mahasiswa. Dengan berjudul “Pendidikan intelektual vs Pendidikan Karakter Dalam Menghadapi Perkembangan Zaman” acara ini dilaksanakan dengan baik. Dengan materi yang sangat bermanfaat bagi para mahasiswa dalam menghadapi perkembangan zaman.
Diadakan beberapa kegiatan, seperti talkshow parenting diikuti 170 peserta warga umum, lomba APE 22 kelompok mahasiswa dan guru se-Kaltim, unjuk bakat menggambar dan mewarnai, enam peserta TK se-Samarinda, unjuk bakat mewarnai 13 peserta TK se-Samarinda, unuk bakat menari 15 kelompok TK se-Samarinda, dan unjuk bakat fashion show 11 peserta TK se-Samarinda.
Talkshow Parenting merupakan salah satu bagian acara dari PAUD FAIR 2018. Acara ini dihadiri oleh 170 peserta yang kebanyakan merupakan mahasiswa. Dengan berjudul “Pendidikan intelektual vs Pendidikan Karakter Dalam Menghadapi Perkembangan Zaman” acara ini dilaksanakan dengan baik. Dengan materi yang sangat bermanfaat bagi para mahasiswa dalam menghadapi perkembangan zaman.
Dalam Pedoman Pendidikan Karakter pada Pendidikan Anak Usia Dini, misalnya, pendidikan karakter dimaksudkan sebagai upaya penanaman nilai-nilai karakter kepada anak didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai kebaikan dan kebajikan, kepada Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kebangsaan agar menjadi manusia yang berakhlak.
Dalam tahapan proses pendidikan yang dilewati anak manusia, sesungguhnya pendidikan karakter sendiri dapat ditanamkan sejak dini, yakni dari usia 0-6 tahun. Nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat ditanamkan pada anak usia dini mencakup empat aspek, yaitu: aspek spiritual, aspek personal/kepribadian, aspek sosial, dan aspek lingkungan. Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang melibatkan penanaman pengetahuan, kecintaan dan penanaman perilaku kebaikan yang menjadi sebuah pola/kebiasaan.Pendidikan karakter tidak lepas dari nilai-nilai dasar yang dipandang baik. Nilai-nilai karakter yang dipandang ideal dan sangat penting diinternalisasikan ke dalam setiap jiwa.
Pembentukan karakter anak usia dini dapat mengikuti suatu pola tertentu, yaitu suatu perilaku yang teratur, disiplin, dan baku (sesuai standar) artinya berbagai jenis dan pola perilaku tersebut dapat di kembangkan melalui penjadwalan secara terus menerus hingga perilaku yang diharapkan melekat pada anak secara kuat dan menjadi bagian dari perilaku positif yang Jurnal Pendidikan Anak, Volume 1, Edisi 1, Juni 2012 16 dimilikinya. Penjadwalan yang terus menerus itu sering disebut sebagai kegiatan rutin. Kegiatan ini juga sering kali disebut sebagai kegiatan pembiasaan karena memang sasaran dari kegiatan ini adalah untuk membiasakan perilaku tertentu yang dianggap mendasar dan penting bagi pola kehidupan anak saat ini maupun ketika anak itu dewasa. Pembentukan karakter melalui kegiatan terprogram maksudnya adalah kegiatan yang menjadi agenda dan di rancang dalam silabus guru,baik untuk jangka waktu yang pendek maupun jangka waktu yang panjang, yaitu untuk satu hari, satu minggu, satu bulan atau satu semester. Pembentukan karakter melalui kegiatan spontan dengan tujuan untuk lebih meningkatkan apresiasi anak terhadap nilai-nilai yang baik yang muncul berdasarkan kejadian nyata, dan muncul saat itu. Pembentukan karakter melalui kegiatan keteladanan atau contoh-contoh dengan maksud untuk mengarahkan anak pada berbagai contoh pola perilaku yang dapat di terima oleh masyarakat, yaitu dengan cara menampilkannya langsung di hadapan atau dalam kehidupan bersama anak.
Pada era globalisasi seperti saat ini banyak dampak dan perubahan yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia, adanya dampak dan perubahan yang ada tidak terbatas pada usia individu. Dampak negatif yang dirasakan akibat globalisasi adalah keberadaan teknologi canggih yang tersedia ditengah keterbatasan berpikir dan kultur budaya, agama yang memudar sehingga lambat laun akan terjadi degradasi moral bangsa. Sayangnya, yang paling merasakan dampak negatif globalisasi adalah anak-anak, padahal mereka adalah generasi penerus bangsa kelak. Untuk itu perlu dicari jalan terbaik untuk membangun dan mengembangkan karakter anak bangsa agar memiliki karakter yang baik, unggul dan mulia ditengah dampak negatif arus globalisasi. Upaya yang tepat untuk itu adalah melalui pendidikan karakter, karena pendidikan ini memiliki peran penting dan sentral dalam pengembangan potensi manusia, termasuk potensi mental.
Menurut penulis, Pendidikan karakter merupakan langkah sangat penting dan strategis dalam membangun kembali jati diri bangsa dan menggalang pembentukan masyarakat Indonesia baru. Karakter pendidikan harus melibatkan berbagai pihak, di keluarga dan rumah tangga, lingkungan sekolah, dan masyarakat.
Dengan
masing masing peran yang dilakukan dengan baik oleh keluarga, sekolah maupun
masyarakat dalam pendidikan, yang saling memperkuat dan saling melengkapi
antara ketiga pusat itu, akan memberi peluang besar mewujudkan sumber daya
manusia terdidik yang bermutu.
Daftar
Referensi
Dirjen
PAUDNI Kemdiknas, Pedoman Pendidikan Karakter pada Pendidikan Anak Usia Dini
(Jakarta: Direktorat Pembinaan PAUD Kemdiknas, 2012), h. 4.
Patmi
Yati, S. Pd., AUD. “Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Melalui Metode Field
Trip”. 2016
Koran
Kaltim Post
Eka Sapti
Cahyaningrum, Sudaryanti Sudaryanti, Nurtanio Agus Purwanto.” Pengembangan Nilai-nilai Karakter Anak Usia Dini Melalui
Pembiasaan dan Keteladanan“. 2 Desember 2017
https://journal.uny.ac.id/index.php/jpa/article/view/17707
Christ Siwi Prawesthi, Ima Defiana. “Perancangan untuk Pendidikan
Karakter Anak”. 28 januari 2016 http://ejurnal.its.ac.id/index.php/sains_seni/article/view/15542
Jito Subianto. “Peran Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat Dalam
Pembentukan Karakter Berkualitas”. 2 Agustus 2013
http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/Edukasia/article/viewFile/757/726